Posted by: deni2k6 | February 17, 2011

Tajuk Media

Tajuk pada media harian “Media Indonesia” hari Senin, tanggal 7 Februari 2011.

Judul tajuk berjudul “Negeri Konsumen”, berikut ini adalah isi dari tajuk tersebut :

“NEGERI KONSUMEN”

Ada pertanyaann yang mengusik sanubari, menyentuh rasa kebangsaan, yaitu apakah Indonesia ini termasuk negara produsen atau negara konsumen?


Bila hal itu ditanyakan kepada Badan Pusat Statistik (BPS), jawabanya dapat dipastikan Indonesia adalah negara produsen. Bahkan, jawaban itu disertai dengan statistik yang mencengankan, seperti kinerja perdagangan sepanjang 2010 yang dirilis BPS, pekan lalu.

Mencengangkan, karena untuk kali pertama ekspor bulanan kita pada Desember 2010 mencapai rekor tertinggi sepanjang sejarah negara Republik Indonesia dengan nilai US$16,8 miliar. Tahun lalu, total ekspor kita meningkat 35%, dari US$116,5 miliar pada 2009 menjadi US$157,7 miliar. Namun, yang lebih mencengangkan adalah impor kita juga naik, bahkan melebihi kenaikan ekspor. Impor melonjak 40%, dari US$96,8 miliar di 2009 menjadi US$135,6 miliar selama 2010.

Terjadi lonjakan impor, tetapi neraca perdagangan kita versi BPS masih surplus. Benarkah demikian? Fakta dilapangan meragukannya. Maraknya cabai asal Thailand yang tidak terdeteksi keberadaannya dalam daftar impor, misalnya, merupakan contoh nyata mudahnya barang negeri orang masuk ke negeri ini secara ilegal. Negeri ini jelas dikepung oleh produk impor, resmi maupun gelap, tidak peduli kendati barang-barang itu bisa diproduksi didalam negeri. Bukan hanya cabai, kita pun mengimpor garam.

Bahkan, mengimpor sudah menjadi candu. Ketika harga pengan melambung, pemerintah pun mengambil langkah membebaskan bea masuk impor atas 57 produk terkait pangan. Di terminal peti kemas Pelabuhan Tanjung Priok saja saat ini ada 62 konteiner daging impor menunggu untuk masuk. Pemerintah juga tengah bersiap untuk kembali mengimpor gula dan beras.

Padahal semua barang pangan tersebut beras, gula, garam, cabai dan daging merupakan kebutuhan rakyat, yang dapat dihasilkan dinegeri sendiri. Nyatanya harus impor. Sebab, Indonesia telah gagal menjadi negara produsen. Kita pun gagal sebagai negara produsen sumber daya manusia. Sebanyak 48 ribu anak bangsa bekerja sebagai tenaga ahli di Eropa, Amerika, bahkan di Brasil. “Kita yang menyekolahkan mereka 15 tahun lalu, tapi negara lain yang panen,” kata mantan Presiden BJ Habibie.

Sebaliknya, kita justru “mengekspor” jutaan tenaga kerja sebagai pembantu rumah tangga. Sebagian dari mereka disiksa tanpa mendapatkan pembelaan yang memadai dari negara. Negara seperti sedang menggali kubur untuk produksi dalam negeri sendiri, sambil menggelar karpet merah bagi barang impor. Negeri ini telah menjadi negeri konsumen, yang tidak menghargai produk sendiri. Bahkan, tidak menghargai anak bangsanya sendiri.

  • Tanggapan terhadap tajuk diatas :

Tajuk diatas menunjukan keadaan riil yang terjadi terhadap perekonomian bangsa Indonesia, segala macam fakta yang diungkapkan pada tajuk diatas, seakan terkubur oleh kenyataan yang ada. Masyarakat Indonesia telah terlena dengan produk-produk luar negeri, yang bahwasannya produk tersebut tidaklah lebih baik dari produk-produk buatan dalam negeri sendiri.

Kesenjangan dalam kehidupan sosial dan juga gengsi, mungkin menjadi salah satu faktor penyebab semakin banyaknya konsumen yang lebih memilih produk luar negeri dibandingkan dengan produk dalam negeri.

Apabila pengaruh ini tidak segera di tindak lanjuti oleh pemerintah dengan cepat dan akurat, maka dampaknya akan semakin jelas terlihat dan semakin dapat dirasakan oleh para produsen dalam negeri, khususnya bagi para pengusaha macro menengah ke bawah yang mungkin akan mengalami kebangkrutan, diakibatkan kurangnya konsumen yang meminati produk-produk mereka.

Kemudian, mungkin memang benar kegagalan negara Indonesia pun terjadi pada pemberdayaan, pemanfaatan, dan pembinaan terhadap SDM, anak-anak bangsa yang memiliki kemampuan lebih memilih mengamalkan ilmu yang ia miliki di negeri orang lain, ketimbang harus mengamalkannya di negeri sendiri. Banyak faktor yang mendorong itu semua, diantaranya adalah :

  1. Kurangnya support dari negara, untuk menunjang peningkatan mutu SDM
  2. Kecilnya insentif yang diberikan kepada tenaga-tenaga ahli

Setelah itu, negara Indonesia adalah salah satu negara yang sangat mengandalkan pendapatan negaranya kepada devisa yang dihasilkan oleh para TKI (Tenaga Kerja Indonesia) dan TKW (Tenaga Kerja Wanita) yang sering kali di sebut sebagai “PAHLAWAN DEVISA”. Alih-alih, berharap pulang membawa kebahagiaan setelah hijrah dan bekerja di negeri orang, tak sedikit dari TKI dan TKW Indonesia yang bekerja di luar negeri hanya pulang membawa kepedihan dan penderitaan, bahkan sampai dengan kematian. Pada kenyataannya, sampai sekarang pun pemerintah seakan-akan masih setengah hati dan menutup mata untuk menuntaskan berbagai masalah yang dihadapi TKI dan TKW kita diluar negeri.

Harapan untuk pemerintah Negara Kesatuan Republik Indonesia, pemerintah harus mulai menghargai dan mencintai produk dalam negeri, slogan “CINTAI PRODUK DALAM NEGERI” harus benar-benar ditanamkan kedalam hati setiap warga negara, jangan hanya dijadikan jargon-jargon semata.

Kemudian mulailah serius dalam menyelesaikan persoalan-persoalan TKI dan TKW Indonesia, yang bekerja di luar negeri. Utamakan perlindungan hukum untuk mereka, peduli akan keberadaan dan kesejahteraan mereka selama mereka berada diluar negeri. Jangan sampai kita merupakan mereka, bahwasannya mereka juga adalah “WARGA NEGARA INDONESIA”.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: